Content View Hits : 139096

 Kampus Kampungkali

 

We have guests online

Untung Maksimal Bertanam Hidroponik

PDFPrintEmail
31MARCH_SHORT2016
Written by

Tanaman hidroponik yang dirawat dengan baik  bisa tumbuh subur dimana saja.  Pasar masih terbuka luas  dan keuntungan bisa mencapai 200 persen lebih.

Menjadikan hobi sebagai lahan bisnis bisa dikatakan untung dua kali. Bagaimana tidak? Bisa melakukan hobi saja sudah untung. Apalagi bila dari hobi tersebut bisa mendapatkan keuntungan finansial. Alasan inilah yang mendorong Kabul Pamudji meninggalkan profesi sebelumnya sebagai konsultan otomotif dan berganti pekerjaan menjadi petani hidroponik. ''Sejak muda hobi saya memang bertanam. Mulai dari menanam buah dan cabe di halaman rumah,  menanam buah dalam pot dan bertanam secara hidroponik hingga sekarang ini,'' katanya kepada “Cempaka” di rumahnya yang nyaman di kawasan Lamper Lor, Semarang belum lama ini.

Pada awalnya tak ada niatan Kabul, panggilan akrab  pria kelahiran Solo, tahun 1968 ini untuk menjadikan hobinya bertanam sebagai lahan bisnis. Menurutnya, ide menjadikan hobi bertaham hidroponik sebagai lahan bisnis justru disampaikan salah satu pasien istrinya, drg MI Ardiani Elyawati.  Dikatakan, setelah beberapa kali mengkonsumsi sayuran hidroponik yang ditanamnya di samping rumahnya, anak yang semula sulit makan sayur karena rentan alergi pestisida lantas gemar makan sayur. Bahkan yang lebih menggembirakan, efek samping dari mengkonsumsi sayuran hidroponik, anak tersebut menjadi lebih sehat. Itu sebabnya, anak itu usul agar menanam sayur hidroponik lebih banyak lagi hingga dirinya bisa bisa lebih sering mengkonsumsi sayuran hidroponik.

Nah, berangkat dari permintaan inilah, Kabul lantas terdorong untuk mencari informasi lebih banyak  lagi tentang bertanam hidroponik. Satu-satunya sumber infiormasi yang diandalkan adalah internet. Karena itu bisa dikatakan ia belajar hidroponik secara otodidak, secara “trial by error”.  Dari informasi yang ada, ia lalu mempraktikannya sendiri di lahan sempit yang ada di samping rumahnya. Dalam masa pembelajaran itu diakui dirinya beberapa kali gagal panen. ''Tapi justru dari kegagalan itu saya terdorong untuk terus berusaha hingga berhasil seperti sekarang.'' katanya santai sambil menyeruput teh panas di teras rumahnya.

Sentuhan cinta

Modal utama bertanam hidroponik menurut pria lulusan Politeknik Bandung ini adalah cinta. Berlebihan? Tidak. Pasalnya, dari banyak pengalaman, tanaman hidroponik yang dirawat dengan baik dan dilakukan dengan sentuhan cinta bisa tumbuh subur dan berkembang maksimal. Sebaliknya, lahan tanaman yang digarap dengan teknologi canggih serta dengan sistem yang baik, tanpa ada cinta dari pemiliknya banyak yang gagal dan akhirnya mati. ''Yang dimaksud dengan cinta di sini ya ada perhatian dan sering disapa atau disentuh. Karena itu sekalipun saya dibayar mahal untuk membuatkan lahan atau sebagai konsultan hidroponik kalau sejak awal tahu yang bersangkutan tidak memiliki kecintaan terhadap tanaman dan sebaliknya semata-mata hanya mementingkan aspek bisnis pasti saya tolak,'' kata pria yang kini dikenal  sebagai pakar hidroponik Indonesia ini. .

Secara teknis, bahan-bahan yang dibutuhkan untuk bertanam hidroponik relatif sederhana. Antara lain, pipa pralon, air, pompa, bibit dan juga sejumlah vitamin yang dibutuhkan oleh tanaman untuk tumbuh. Mengenai berapa besar modalnya ditentukan luas lahan atau banyaknya bibit yang hendak di tanam. Sebagai gambaran, untuk skala sedang, untuk lahan seluas 300 meter biaya yang dibutuhkan sekitar 360 juta. Sedangkan skala kecil modal uang dibutuhkan sekitar Rp 20 juta.  Uang sebanyak ini lebih banyak digunakan untuk membuat “greenhouse”n infrastruktur lainnnya. Selebihnya untuk bibit harganya relatif murah, berkisar Rp 20 ribu per kilogram.

Salas satu syarat utama yang dibutuhkan agar tanaman hidroponik bisa tumbuh subur sempurna adalah adanya sinar matahari yang cukup antara pukul 06.00 - 13.00. Selebihnya adalah pengelolaan lahan secara rutin untuk mengontrol kecukupan air, vitamin maupun menyiangi daun kering atau gangguan hama bila ada. Sebab, berbeda dengan tanaman yang tumbuh di tanah, menurut Kabul, tanaman hidroponik minim hama seperti ulat, jamur dan lainnya. ''Fungsi utama dari greenhouse ya untuk menghalau hama. Sebab, kalau hama yang dari air jelas tidak ada,'' imbuh pria ini menambahkan dirinya kini lebih fokus menggarap lahan milik SMK Theresiana di Bandungan bekerjasama dengan Tim Peduli Pendidik (TPP) Keuskupan Agung Semarang.


Jenis sayur dan buah yang bisa ditanam secara hidroponik relatif banyak. Sebut saja selada. park coy, cay sim, kangkung, bayam hijau, bayam merah, sawi putih, basil, mint, aragula, rosemary dan oregano. Juga buah tomat chery, strowbery, terong ungu dan paprika. Masing-masing sayur dan buah tersebut tidak membutuhkan waktu lama untuk panen. Untuk sayur, misalnya park coy dan selada, waktu yang dibutuhkan untuk siap panen hanya berkisar 3 minggu. Sedangkan tomat chery dan strawberi sedikit lebih lama.

Yang menarik, sayur dan buah hidroponik memiliki daya jual yang tinggi. Jauh lebih menguntungkan dibandingkan sayur biasa. Sebagai berbandingan, park coy dipasar tradisional yang rata-rata dijual perikat isi 3 datang seharga Rp 2500. maka park coy hidroponik milik pria yang diberi label Farmhill  bisa dijual per batang Rp 4 ribu atau Rp 15 ribu per kilo. Demikian juga cay sim di pasaran satu ikat rata-rata rp 5 ribu maka cay sim hidroponik bisa dijual Rp 12 ribu per kilogramnya.

Selama ini, pasar sayur hidroponik yang dikekola Kabul banyak dipasarkan di supermarket, hotel dan restoran. Belakangan, seiring meningkatnya kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi sayuran segar yang sehat bebas pestisida,  banyak pula rumah tangga yang menjadi langgannya.  Bisa jadi karena itu, keuntungan yang bisa didapat dari bertanam hidroponik relatif besar. Bisa mencapai 200 persen lebih. Bahkan bila hasilnya maksimal bisa mencapai 1000 persen lebih. ''Kalau serius, dalam waktu satu tahun modal sudah kembali,'' tandas Kabul.

(esty valentina)

Sumber: http://www.tabloidcempaka.com/index.php/read/inspirasi/detail/345/Untung-Maksimal-Bertanam-Hidroponik# (07 Maret 2016 | 15:18 Wib)

 

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL