Content View Hits : 144119

 

 

 

 

 

 

We have guests online

Mencari Yang Sesat: Renungan edisi 6 Desember 2016

PDFPrintEmail
06DECEMBER_SHORT2016
Written by

"Bapamu tidak menghendaki seorang pun dari anak-anak ini hilang." (Mat 18:12-14)

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Bagaimana pendapatmu? Jika seseorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang 99 ekor di pegunungan, lalu pergi mencari yang sesat itu? Dan Aku berkata kepadamu: Sungguh, jika ia berhasil menemukannya, lebih besarlah kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang sembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat.

Demikian pula Bapamu yang di surga tidak menghendaki seorang pun dari anak-anak ini hilang.”

Renungan

Allah mencipta manusia dan sekaligus ingin menyelamatkan mereka. Allah berkehendak untuk menyelamatkan semua manusia yang telah diciptakan-Nya. Semua itu artinya tanpa kecuali. Orang baik diselamatkan, orang jahat pun dipanggil juga pada keselamatan.

Sang gembala memiliki 100 ekor domba, yang seekor tersesat. 99 ekor adalah jumlah yang tidak genap. Kurang seekor domba agar menjadi genap 100 ekor. Seekor domba tersesat. Sang gembala peduli mencari domba yang sesat. Dicari sampai ketemu. Dan saat ketemu, meluap kegembiraannya, melebihi kegembiraan yang 99 ekor.

Mengapa demikian? Karena, yang seekor sangat berarti untuk menjadikan bilangan domba sang gembala genap 100 ekor. Jika kurang seekor, maka tidak ada bilangan 100 ekor.

Kita dipanggil untuk mencari yang sesat, agar bilangan kita menjadi genap. Maukah kita menjalankan tugas itu? Marilah kita berperan dalam penyelamatan Allah agar menjadi lengkap dan penuh.

Image: http://www.lalucedimaria.it/wp-content/uploads/2016/06/riscatto.jpg

 

Pesan Natal KWI-PGI 2016

PDFPrintEmail
16NOVEMBER_SHORT2016
Written by

“HARI INI TELAH LAHIR BAGIMU JURUSELAMAT, YAITU KRISTUS, TUHAN, DI KOTA DAUD”
(Lukas 2:11)


Saudari-Saudara umat Kristiani di Indonesia,

Setiap merayakan Natal hati kita dipenuhi rasa syukur dan sukacita. Allah berkenan turun ke dunia, masuk ke dalam hiruk-pikuk kehidupan kita. Allah bertindak memperbaiki situasi hidup umat-Nya. Berita sukacita itulah yang diserukan oleh Malaikat: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Luk 2:11).

Belarasa Allah itu mendorong kita untuk melakukan hal yang sama sebagaimana Dia lakukan. Inilah semangat atau spiritualitas inkarnasi. Keikutsertaan kita pada belarasa Allah itu dapat kita wujudkan melalui upaya untuk menyikapi masalah-masalah kebangsaan yang sudah menahun.

Dalam perjuangan mengatasi masalah-masalah seperti itu, kehadiran Juruselamat di dunia ini memberi kekuatan bagi kita. Penyertaan-Nya menumbuhkan sukacita dan harapan kita dalam mengusahakan hidup bersama yang lebih baik. Oleh karena itu, kita merayakan Natal sambil berharap dapat menimba inspirasi, kekuatan dan semangat baru bagi pelayanan dan kesaksian hidup, serta memberi dorongan untuk lebih berbakti dan taat kepada Allah dalam setiap pilihan hidup.

Saudari-saudara terkasih,

Kita akan segera meninggalkan tahun 2016 dan masuk tahun 2017. Ada hal-hal penting yang perlu kita renungkan bersama pada peristiwa Natal ini. Sebagai warga negara kita bersyukur bahwa upaya pembangunan yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia semakin memberi harapan bagi terwujudnya keadilan dan kesejahteraan yang merata. Walaupun belum sesuai dengan harapan, kita sudah menyaksikan adanya peningkatan dan perbaikan pelayanan publik, penegakan hukum, pembangunan infrastruktur, dan peningkatan kualitas pendidikan. Kita dapat memandangnya sebagai wujud nyata sukacita iman sebagaimana diwartakan oleh malaikat kepada para gembala, “aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa” (Luk 2:10).

Memang harus kita akui bahwa masih ada juga segi-segi kehidupan bersama yang harus terus kita perhatikan dan perbaiki. Misalnya, kita kadang masih menghadapi kekerasan bernuansa suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Masalah korupsi dan pungli juga masih merajalela, bahkan tersebar dari pusat hingga daerah. Kita juga menghadapi kemiskinan yang sangat memprihatinkan. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa angka kemiskinan per Maret 2016 masih sebesar 28,01 juta jiwa. Keprihatinan lain yang juga memerlukan perhatian dan keterlibatan kita untuk mengatasinya adalah peredaran dan pemakaian narkoba. Data Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2015 memperlihatkan bahwa pengguna narkoba terus meningkat jumlahnya. Pada periode Juni hingga November 2015 terjadi penambahan sebesar 1,7 juta jiwa, dari semula 4,2 juta menjadi 5,9 juta jiwa. Semakin banyaknya pengguna narkoba itu tidak lepas dari peran produsen dan pengedar yang juga bertambah.

Kita juga harus bekerja keras untuk mendewasakan dan meningkatkan kualitas demokrasi. Penyelenggaraan Pemilu merupakan salah satu sarananya, seperti Pemilihan Umum Kepala Daerah serentak (Pilkada serentak) yang akan dilaksanakan tanggal 15 Februari 2017 di 101 daerah terdiri atas 7 provinsi, 76 kabupaten, dan 18 kota. Peristiwa itu akan menjadi ujian bagi partisipasi politik masyarakat dan peningkatan kualitas pelaksana serta proses penyelenggaraan pesta demokrasi tersebut.
Tantangan-tantangan tersebut, sebagaimana juga masalah lainnya, harus kita hadapi. Jangan sampai persoalan-persoalan sosial dan kemanusiaan itu membuat kita merasa takut. Kepada kita, seperti kepada para gembala, malaikat yang mewartakan kelahiran Yesus mengatakan “jangan takut” (Luk 2:10).

Saudari-saudara terkasih,

Marilah kita jadikan tantangan-tantangan tersebut kesempatan untuk mengambil prakarsa dan peran secara lebih nyata dalam menyikapi berbagai persoalan hidup bersama ini. Kita ciptakan hidup bersama yang damai dengan terus melakukan dialog. Kita lawan korupsi dan pungli dengan ikut aktif mengawasi pelaksanaan dan pemanfaatan anggaran pembangunan. Kita atasi problem kemiskinan, salah satunya dengan meningkatkan semangat berbagi. Kita lawan narkoba dengan ikut mengupayakan masyarakat yang bebas dari narkoba, khususnya dengan menjaga keluarga kita terhadap bahaya barang terlarang dan mematikan itu.

Kita tingkatkan kualitas demokrasi kita melalui keterlibatan penuh tanggungjawab dengan menggunakan hak pilih dan aktif berperan serta dalam seluruh tahapan dan pelaksanaan Pilkada. Kita juga berharap agar penyelenggara Pilkada dan para calon kepala daerah menjunjung tinggi kejujuran dan bersikap sportif, menaati semua aturan yang sudah ditentukan dan aktif berperan menjaga kedamaian demi terwujudnya Pilkada yang berkualitas. Kita tolak politik uang. Jangan sampai harga diri dan kedaulatan kita sebagai pemilih kita korbankan hanya demi uang.

Kita syukuri kehadiran Yesus Kristus yang mendamaikan kembali kita dengan Allah. Inilah kebesaran kasih karunia Allah, sehingga kita layak disebut sebagai anak-anak Allah (1Yoh 2:1). Di dalam Yesus Kristus kita memperoleh hidup sejati dan memperolehnya dalam segala kelimpahan (Yoh 10:10). Kita syukuri juga berkat yang telah kita terima sepanjang tahun yang segera berlalu.

Kita sampaikan berkat sukacita kelahiran Yesus Kristus ini kepada sesama kita dan seluruh ciptaan. Kita mewujudkan karya kebaikan Allah itu melalui perhatian dan kepedulian kita terhadap berbagai keprihatinan yang ada dengan aktif mengupayakan pembangunan yang berkelanjutan dan yang ramah lingkungan. Dengan demikian, perayaan kelahiran Yesus Kristus ini dapat menjadi titik tolak dan dasar bagi setiap usaha kita untuk lebih memuliakan Allah dalam langkah dan perbuatan kita.

SELAMAT NATAL 2016  dan TAHUN BARU 2017

Jakarta, 10 November 2016

Sumber: http://katoliknews.com/2016/11/11/teks-pesan-natal-2016-kwi-dan-pgi/

 

Penguatan Pangan Berbasis Keluarga

PDFPrintEmail
12OCTOBER_SHORT2016
Written by

Surat Gembala Hari Pangan Sedunia 2016 Keuskupan Agung Semarang

Dibacakan/diterangkan, Sabtu-Minggu, 15-16 Oktober 2016

Saudari-saudaraku yang terkasih

Dua tahun terakhir ini, pembicaraan tentang keluarga menjadi salah satu pokok perhatian Gereja. Tahun 2014 dan 2015 diadakan sinode para uskup sedunia di Roma, membahas tentang keluarga. Sidang KWI November 2015 diawali dengan Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) memberi perhatian tentang keluarga: “Keluarga Katolik: Sukacita Injil,Panggilan dan Perutusan Keluarga dalam Gereja dan Masyarakat Indonesia yang Majemuk”.Keluarga sebagai “sel pertama dan sangat penting bagi masyarakat” (Familiaris Consortio 42) dan “sekolah kemanusiaan” (Gaudium et Spes 52) menjadi tempat pertama seseorang belajar hidup bersama orang lain serta menerima nilai-nilai luhur dan warisan iman. Di situlah seseorang menjadi pribadi matang yang menggemakan kemuliaan Allah. Keluarga katolik menjadi tempat utama, dimana doa diajarkan, perjumpaan dengan Allah yang membawa sukacita dialami, iman ditumbuhkan, dan keutamaan-keutamaan ditanamkan.

Sebagai tindak lanjut dari sinode para Uskup sedunia, Bapa Suci Fransiskus menerbitkan anjuran apostolik “AMORIS LAETITIA – SUKACITA CINTA DALAM KELUARGA”, pada Hari Raya St. Yusuf, 19 Maret 2016. Dalam keluargalah kehidupan rohani dan iman seseorang dimatangkan, kehidupan sosial anggota keluarga semakin dimatangkan seiring dengan perkembangan hidup beriman. Dan salah satu nilai rohani atau kebiasaan yang didapat seseorang dari keluarga adalah hidup doa.

Bacaan-bacaan hari ini menegaskan arti pentingnya hidup doa yang tekun. Yesus menyampaikan perumpamaan kepada para murid-Nya untuk menegaskan bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu (Lukas 18:1-8). Doa yang tidak jemu-jemu itu diharapkan semakin mendorong orang untuk selalu bersatu dengan Allah dan merasakan kerahiman-Nya. Dari relasi dengan Allah yang mendalam tersebut berbuahlah bagi pelayanan kepada sesama dan suburnya solidaritas kemanusiaan.

Kita dapat mewujudkan solidaritas dalam berbagai macam hal dengan berbagai macam cara. Salah satunya adalah solidaritas pangan. Solidaritas pangan menjadi ciri peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) yang selalu kita peringati tanggal 16 Oktober. Peringatan HPS pada tahun 2016 ini mengangkat tema “Penguatan Pangan Berbasis Keluarga”. Keluarga tidak hanya dijadikan tempat untuk menggembleng iman namun keluarga menjadi tempat untuk membangun kesadaran tentang pentingnya kecukupan pangan keluarga yang sehat dan lestari. Dengan kecukupan dan ketersediaan pangan, keluarga dapat mengembangkan sikap dan tindakan nyata solidaritas melalui berbagi pangan bagi orang-orang yang membutuhkan terutama yang kelaparan atau kekurangan gizi. Kita dapat mengembangkan sikap melawan konsumerisme dan hedonisme. Kita harus berani berkata “cukup” sebagai upaya untuk membendung arus besar keserakahan. Ketika kita makan, kita ingat akan petani yang menyediakan beras serta sayuran, ingat nelayan atau peternak yang mengusahakan ketersediaan ikan dan daging. Lebih-lebih, ketika makan, kita harus ingat akan saudari-saudara kita yang masih menderita kelaparan. Kita tidak hanya mengingatnya, namun kita harus berani mewujudkan sabda Yesus, ”Kamu harus memberi mereka makan!” (Mrk. 6:37). Bahkan Bapa Suci Fransiskus dengan tegas mengatakan, ”Ketika kamu tidak menghabiskan makananmu, membuang-buang makanan, itu sama dengan merampok harta orang miskin” (homili pada Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia PBB, 5 Juni 2013).

Masih banyak orang-orang yang belum tercukupi kebutuhan yang paling dasar, yaitu makanan. Sementara di satu sisi ada yang berlimpah-limpah makanannya bahkan tidak jarang pula orang membiarkan makanannya disimpan bahkan terlupakan di almari sampai tidak layak untuk dimakan. Masih banyak budaya menumpuk makanan, tidak peduli akan kelaparan yang melanda sesamanya. Rencana Induk KAS 2016-2035 mengajak kita untuk menjadi pelopor peradaban kasih agar terwujud masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman. Salah satu ukuran kesejahteraan adalah terpenuhinya kebutuhan paling dasar, yaitu makanan.

Gerak Bersama: Membangun Ecclesia Domestica di Indonesia (Hasil SAGKI 2015)

Saudari-saudaraku yang terkasih

“Keluarga merupakan buah dan sekaligus tanda kesuburan adikodrati Gereja serta memiliki ikatan mendalam, sehingga keluarga disebut sebagai Gereja Rumah-Tangga (ecclesia domestica). Sebutan ini sudah pasti memperlihatkan eratnya pertalian antara Gereja dan keluarga, tetapi juga menegaskan fungsi keluarga sebagai bentuk terkecil dari Gereja. Dengan caranya yang khas keluarga ikut mengambil bagian dalam tugas perutusan Gereja, yaitu karya keselamatan Allah” (Pedoman Pastoral Keluarga KWI 2010, No 6). Sebagai Gereja Rumah-Tangga, keluarga menjadi pusat iman, pewartaan iman, pembinaan kebajikan, dan kasih kristiani dengan mengikuti cara hidup Gereja Perdana (Kis 2: 41-47; 4: 32-37). Gereja Rumah-Tangga mengambil bagian dalam tiga fungsi imamat umum Yesus Kristus, yaitu guru untuk mengajar, imam untuk menguduskan, dan gembala untuk memimpin. Gereja Rumah-Tangga di Indonesia dibangun berdasarkan nilai-nilai kristiani yang diwujudkan dalam masyarakat yang majemuk.

Gereja dipanggil untuk menunjukkan wajah Allah yang murah hati dan berbelas kasih melalui pelayanan, terutama kepada mereka yang paling lemah, rapuh, terluka, dan menderita. Kerahiman Allah tidak pernah bertentangan dengan keadilan dan kebenaran, tetapi bergerak melampauinya karena “Allah adalah kasih” (1Yoh 4: 8). Sukacita keluarga dialami secara relasional saat menjalin perjumpaan dan kebersamaan hidup yang bermutu, mempererat relasi kasih, saling memaafkan, menunjukkan sikap tenggang-rasa dan keberanian berkorban, serta sadar akan tanggungjawab pada generasi selanjutnya. Sukacita keluarga dialami secara sosial melalui kepedulian terhadap orang lain, pelayanan tulus terhadap sesama, pekerjaan sesuai panggilan, dan keteladanan hidup. Sukacita makin sempurna saat keluarga disapa dan diteguhkan oleh Gereja dalam pelayanannya.

Saudari-saudaraku yang terkasih

Dalam Bulan Oktober ini selain kita memaknai HPS, juga bulan Rosario dan Bulan Misi. Ujud Misi/Evangelisasi:“Semoga dalam semua komunitas Kristiani, Hari Misi sedunia memperbarui kegem­biraan Injil dan tanggungjawab mereka untuk mewarta­kannya. Sedangkan ujud Gereja Indonesia: Semoga keluarga bersama sekolah dan Gereja bertekun dalam menumbuh­kan dan membiasakan hidup doa bagi anak-anak muda. Hal ini sejalan dengan ajakan Tuhan kita Yesus Kristus, untuk tiada jemu berdoa. Dalam untaian doa rosario, kita juga berdoa untuk para misionaris sebagai sikap ambil bagian dalam tugas misi. Lima tahun terakhir ini, ada gelar budaya dan juga diselenggarakan edukasi misi di Musium Misi Muntilan, kiranya kegiatan serupa dapat diselenggarakan di tempat lain.

Melalui peringatan Hari Pangan Sedunia dan Bulan Misi ini, marilah kita bersyukur atas segala kelimpahan yang sudah diberikan Tuhan kepada kita. Semakin kuat hidup doa kita, akan semakin kuat pula daya dorong untuk peduli kepada sanak saudara yang kekurangan dan kelaparan. Semakin nyata ambil bagian dalam tugas misioner Gereja mewartakan Sukacita Injil. Semoga keluarga-keluarga, komunitas religius- pastoran dan seminari, juga paguyuban yang hidup di paroki, rayon atau kevikepan; menjadi sarana penguatan pangan dan solidaritas bagi semua. Tuhan – Sumber Kebaikan dan Kerahiman, melimpahkan berkat-Nya untuk kita semua.

Semarang, 4 Oktober 2016, peringatan St. Fransiskus Assisi .

Dalam kesatuan dengan Kolegium Konsultor KAS

                                                                                                Franciscus Xaverius Sukendar Wignyosumarta, Pr

Administrator Diosesan Keuskupan Agung Semarang

   

Surat Gembala HUT RI ke-71

PDFPrintEmail
10AUGUST_SHORT2016
Written by

 “Satu hati bagi bangsa mewujudkan Peradaban Kasih di Indonesia”

Saudara-saudariku umat Katolik Keuskupan Agung Semarang, Para Pejuang Senior, Veteran, dan sahabat-sahabat muda yang penuh semangat:SALAM BAHAGIA, karena kasih dan kemerdekaan yang Tuhan berikan bagi kita. SALAM PERJUANGAN untuk kita yang terus berkomitmen setia membangun bangsa dan masyarakat atas dasar cinta yang tulus bagi bangsa dan Tanah Air Indonesia.

Sebentar lagi kita rayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-71. Hari syukur karena rahmat Tuhan Yang Mahaesa telah mengaruniakan kemerdekaan bagi Bangsa Indonesia, untuk menentukan perjalanan bangsa.Kemerdekaan sebagai anugerah dari Tuhan ini tentu menjadi sebuah pengalaman yang sangat istimewa dan menggetarkan, terutama bagi para pejuang yang saat ini masih ada bersama kita, atau bagi yang telah gugur.

Hari ini Gereja Katolik juga merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Sebuah ajaran iman Gereja sebagaimana ditegaskan oleh Konsili Vatikan II, “Akhirnya Perawan tak bernoda, yang tidak pernah terkena oleh segala cemar dosa asal sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat melalui kemuliaan di surga beserta badan dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Puteranya, Tuan atas segala tuan, yang telah mengalahkan dosa dan maut” (LG art. 59). Saat ini kita renungkan dua pengajaran dari dua peristiwa besar yakni HUT Kemerdekaan RI ke-71 dan Hari Raya SP Maria diangkat ke Surga.

Maria adalah Figur Perempuan Merdeka.

Saudara-saudariku, Para Pejuang, Para aktivis, dan Kaum muda-remaja dan anak-anak yang saya cintai. Kita menyetujui bahwa Kemuliaan SP Maria sebagaimana dirayakan oleh Gereja, bukan menjadi cita-cita pribadi Bunda Maria. Sebagai seorang pribadi ia tidak pernah menghitung amal dan jasa kehidupannya. Ia juga tidak pernah memikirkan apakah dari tindakan baiknya, kelak akan dimuliakan. Yang dikerjakan oleh Bunda Maria adalah komitmen hidup dalam kebenaran sebagai warga masyarakat. Pujian Magnificat adalah pujian sukacita dan kesadaran bahwa seorang manusiadilibatkan dalam karya agung-Nya. Bunda Maria menjadi figur wanita yang penuh perjuangan, sebagai perempuan muda dan nantinya sebagaiibu rumah tangga, sekaligus anggota masyarakat yang peduli. Ia menerima tawaran ketika disampaikan ajakan bekerjasama dengan Allah melalui Malaikat Gabriel dengan menjawab, “Jadilah padaku menurut perkataan-Mu” (Luk 1:38). Ia menjadi bagian dari perjuangan keselamatan manusia dengan mengambil bagian dalam gerak perjuangan Yesus Puteranya meneladankan kehidupan yang baik dan benar. Dari Betlehem, Mesir, Nasareth sampai ke Puncak Golgota, Bunda Maria ikut serta sebagai perempuan pengawal perjuangan kemerdekaan sejati. Dialah pribadi yang ikut menjadi saksi dan pendamping perjuangan keselamatan manusia. Bunda Maria juga menjadi Ibu dan pendamping tumbuhnya sekelompok kecil orang yangmenemukan kehidupan baru. Hidup dan kiprahnya digerakkan oleh bimbingan Roh Kudus dalam perjalanan Gereja awal. Gereja Katolik yakin bahwa Bunda Maria menjadi pendoa dan pejuang bagi umat yang mengimani dan menerima perjuangan Puteranya untuk memerdekakan hidup dari belenggu dosa.

Bangsa Indonesia mengalami hambatan kemerdekaan sejati karena berbagai persoalan.

            Saudari-saudara terkasih, kita menyadari bahwa persoalan bangsa masih sedemikian banyak dan belum bisa diurai tuntas. Selain persoalan ekonomi, politik, tenaga kerja, pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, pembangunan daerah-daerah pinggiran, ada persoalan moralitas kehidupan dan kemanusiaan. Kasus-kasus korupsi, kemiskinan, ketidakadilan, kekerasan terhadap perempuan dan anak, pornografi, perdagangan manusia, narkoba dan ketidaksetiaan dalam rumahtangga, masih terus terjadi.

ARDAS KAS ke 7 mengajak mewujudkan cita-cita melalui: peningkatan peran dan keterlibatan kaum awam dalam gerakan sosial, budaya, ekonomi, politik dan pelestarian lingkungan dengan semangat pembelajaran, kejujuran, dan kerjasama yang didukung dengan transparansi dan akuntabilitas dalam tata kelola paroki dan lembaga-lembaga karya serta peningkatan spiritualitas dan profesionalitas para pelayan pastoral. Bagaimana kita mewujudkan upaya-upaya itu?

Langkah-langkah Inklusif, Inovatif dan Transformatif.

Tindakan-tindakan konkret untuk mendukung dan mengembangkan rasa nasionalisme dan kecintaan pada Tanah Air perlu disusun, diagendakan secara terencana dan terukur:

Pertama, soal kesejahteraan rakyat. Mewujudkan pemerintahan yang bersih dan bebas korupsi, berlaku adil dan benar dalam membuat regulasi kebijakan dan pengadilan, serta mengentaskan mereka yang miskin, perlu menjadi penegasan setiap pribadi. Umat Katolik melalui keterlibatan nyata, ikut mengawal pembangunanNegara Kesatuan Republik Indonesia.

Kedua, mengembangkan hidup bermartabat. Moralitas bangsa akan semakin maju bila didukung dengan penghargaan martabat manusia yang dari generasi ke generasi perlu diajarkan. Tindakan-tindakan yang merendahkan martabat pribadi perlu diganti dengan menghormati setiap pribadi dimulai dari habitus baik di dalam keluarga serta lingkungan sekitar. Reksa pastoral di paroki-paroki perlu mengintegrasikan “logika pastoral belaskasih” melalui tiga upaya yakni menuntun, menegaskan dan mengintegrasikan (anjuran apostolik Paus Fransiskus tentang KELUARGA ‘Amoris Laetitia, 19 Maret 2016).

Ketiga, mennyatakan semangat iman kepada Allah yang satu. Komitmen ini perlu terwujud berawal dari semangat Bhinneka Tunggal Ika, kita kokohkan Indonesia yang SATU. SATU hati, SATU bahasa, SATU pengharapan, SATU Tuhan yang Esa bagi semua,meski berbeda agama, ras dan suku budaya, namun kita adalah umat yang satu dan sama di hadapan Allah yang Esa. Penghayatan akan kesatuan ini bisa didukung dalam beberapa gerakan, seperti halnya gerakan tekun mendoakan bangsa dan negara, baik secara pribadi/perorangan, keluarga, kelompok/wilayah/stasi,paroki. Dapat juga secara bersama-sama dengan Gereja-gereja Kristen dalam gerakan oekumenis, melakukan doa bersama bagi bangsa. Doa itu hendaknya terus kita panjatkan setiap tanggal 17 dalam bulan selama 9 kali (semacam novena), mulai 17 Agustus 2016 sampai 17 April 2017 sebagai ujub doa bersama bagi Bangsa dan Tanah Air tercinta. Rumusan sederhana dapat diambil dalam teks “Doa untuk Tanah Air” dalam Buku Puji Syukur nomor 194. Dapat juga didoakan “Doa untuk Masyarakat”, dari Madah Bakti No. 50.

Keempat, menjadi warga negara yang terlibat. Memasuki tahun 2017, akan diwarnai dengan Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) di beberapa Kabupaten dan Kota di wilayah Jawa Tengah dan DIY.Hendaknya umat Katolik ikut berproses mewujud­nyatakan perubahan, pembaruan dan kemajuan dengan mendampingi dan mengawal perjalanan PILKADA agar berjalan dalam rel kebenaran. Keberanian ikut terlibat dalam tugas Penyelenggaraan PILKADA di setiap tingkatannya, maupun sebagai Pengawas dalam Bawaslu akan menghasilkan produk PILKADA yang bermutu. Saya berharap umat Katolik KAS akan dapat menjadi pemilih yang cerdas dan aktif terlibat di dalam prosesnya.

Kelima, mengisi setiap momentum dengan kegiatan positif.Diharapkan dalam bulan kemerdekaan sekaligus sebagai Bulan Ajaran Sosial Gereja (ASG) ini, menjadi kesempatan untuk kiprah kebangsaan serta berkegiatan bersama masyarakat. Kegiatan seperti upacara bendera, tirakatan kemerdekaan, dialog atau sarasehan kebangsaan, ataupun tindakan sosial kemasyarakatan lainnya. Kegiatan yang kreatif dan melibatkan, tentu akan memberikan daya ubah yang berguna bagi bangsa dan negara.

DIRGAHAYU NEGERI INDONESIAKU dan SELURUH RAKYAT YANG MENCINTAINYA. Kemerdekaan menjadi milikmu, pencinta kemerdekaan yang sejati. Tuhan senantiasa memberkati. BERKAH DALEM.

Semarang, 8 Agustus 2016

Dalam Kesatuan dengan Kolegium Konsultor KAS

Salam, doa dan berkah Dalem

FX. Sukendar Wignyosumarta, Pr

Administrator Diosesan KAS.

 

Surat Gembala Hari Komunikasi Sosial Ke 50

PDFPrintEmail
20APRIL_SHORT2016
Written by

Saudara dan saudari terkasih,

TAHUN SUCI Kerahiman mengajak kita semua untuk merefleksikan keterkaitan antara komunikasi dan kerahiman. Gereja, dalam kesatuan dengan Kristus sebagai penjelmaan yang hidup dari Bapa Yang Maha Rahim, dipanggil untuk mewujudkan kerahiman sebagai ciri khas dari seluruh diri dan perbuatannya. Apa yang kita katakan dan cara kita mengatakannya, setiap kata dan sikap kita, harus mengungkapkan kemurahan, kelembutan dan pengampunan Allah bagi semua orang. Kasih, pada hakikatnya, adalah komunikasi; kasih mengarah kepada keterbukaan dan kesediaan untuk berbagi. Jika hati dan tindakan kita diilhami oleh kasih insani, kasih ilahi, maka komunikasi kita akan disentuh oleh kuasa Allah sendiri.

Sebagai putra dan putri Allah, kita dipanggil untuk berkomunikasi dengan semua orang, tanpa kecuali. Dengan caranya yang khusus, perkataan dan perbuatan Gereja dimaksudkan seluruhnya untuk menyampaikan kerahiman, menjamah hati orang-orang dan mendukung perjalanan manusia menuju kepenuhan hidup seperti yang dimaksudkan Bapa ketika mengutus Yesus Kristus ke dunia. Ini berarti bahwa kita sendiri haruslah bersedia menerima kehangatan Bunda Gereja dan berbagi kehangatan itu dengan orang lain, sehingga Yesus dapat dikenal dan dikasihi. Kehangatan itulah yang memberi hakikat kepada sabda iman; melalui pewartaan dan kesaksian kita, sabda iman itu menyalakan "percikan api" yang memberi mereka kehidupan.

Komunikasi memiliki kekuatan untuk mempertemukan, menciptakan perjumpaan dan penyertaan, dan dengan demikian memperkaya manusia. Betapa indahnya ketika orang-orang memilih kata-kata dan melakukan perbuatan dengan penuh kepekaan, agar bisa terhindar dari kesalahpahaman, untuk menyembuhkan kenangan-kenangan yang terluka dan membangun perdamaian dan keharmonisan. Kata-kata dapat mempertemukan pribadi-pribadi, antar anggota keluarga, kelompok-kelompok sosial dan bangsa-bangsa. Hal ini bisa terjadi di dunia nyata maupun dunia digital. Perkataan dan perbuatan kita seharusnya diungkapkan dan dilakukan untuk membantu kita semua agar terbebas dari lingkaran setan untuk selalu menyalahkan dan membalas dendam yang terus menerus menghantui manusia baik secara pribadi maupun dalam komunitasnya, yang pada akhirnya memicu ungkapan-ungkapan kebencian. Perkataan orang-orang Kristen haruslah menjadi sebuah dukungan terus menerus bagi komunitas dan bahkan dalam hal di mana manusia harus mengutuk kejahatan dengan tegas, hal ini seharusnya tidak sampai memutus relasi dan komunikasi.

Karena alasan inilah, saya ingin mengajak semua orang yang berkehendak baik untuk menemukan kembali daya kuasa kerahiman guna menyembuhkan relasi yang terluka dan memulihkan perdamaian dan kerukunan dalam keluarga-keluarga dan komunitas-komunitas. Kita semua mengetahui bagaimana luka-luka lama dan dendam kesumat dapat menjerat manusia dalam menghalangi komunikasi dan rekonsiliasi. Hal yang sama terjadi juga dalam relasi antar bangsa-bangsa. Di setiap situasi, kerahiman selalu mampu menciptakan cara baru untuk berbicara dan berdialog. Shakespeare merumuskannya dengan elok ketika ia berujar: "Kualitas kerahiman tak terkekang. Ia turun bagai hujan lembut yang menetes dari langit di atas ke bumi di bawah. Kerahiman membawa berkat ganda: ia memberkati dia yang memberi dan dia yang menerima" (Saudagar Venisia, Lakon IV, Adegan I).

Bahasa politik dan diplomatik kita akan berhasil dengan baik jika terinspirasi oleh kerahiman, yang tidak pernah kehilangan harapan. Saya meminta mereka yang mengemban tanggung jawab kelembagaan dan politik dan mereka yang diberi amanat untuk membentuk pendapat publik, untuk tetap memperhatikan secara khusus cara berkomunikasi kepada orang-orang yang berpikir atau bertindak secara berbeda, atau orang-orang yang mungkin telah melakukan kesalahan. Sangatlah mudah menyerah pada godaan untuk mengeksploitasi situasi-situasi seperti itu yang

dapat menyulut api kecurigaan, ketakutan dan kebencian. Sebaliknya, diperlukan keberanian untuk membimbing orang-orang menuju proses rekonsiliasi. Keberanian positif dan kreatif seperti itulah yang sebenarnya menawarkan penyelesaian nyata atas berbagai perseteruan yang mengesumat serta membuka peluang untuk membangun perdamaian abadi. "Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan" (Mat. 5:7), "Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah" (Mat 5:9).

Saya sangat berharap agar cara berkomunikasi kita, seperti juga pelayanan kita sebagai gembala Gereja, jangan sampai memberi kesan kekuasaan yang angkuh nan jaya atas seorang musuh, atau menistakan orang-orang yang dianggap sebagai pecundang yang mudah dicampakkan. Kerahiman dapat membantu meringankan berbagai kesulitan hidup dan memberi kehangatan kepada mereka yang hanya mengenal dinginnya penghakiman. Semoga cara kita berkomunikasi membantu mengatasi pola pikir yang dengan tegas memisahkan orang-orang berdosa dari orang-orang benar. Kita bisa dan harus menilai aneka situasi keberdosaan - seperti tindak kekerasan, korupsi dan eksploitasi - akan tetapi kita tidak boleh menghakimi pribadi-pribadi, karena hanya Allahlah yang mampu melihat ke kedalaman hati manusia.

Menjadi tugas kita untuk memperingatkan dan menegur mereka yang berbuat salah serta mengecam kejahatan dan ketidakadilan dari tindakan-tindakan tertentu, untuk membebaskan para korban dan membangkitkan mereka yang telah jatuh. lnjil Yohanes mengatakan kepada kita bahwa "kebenaran itu akan memerdekakan kamu" (Yoh 8:32). Kebenaran itu pada akhirnya ialah Kristus sendiri, kerahiman-Nya yang lembut menjadi tolok ukur untuk menakar cara kita menyatakan kebenaran dan mencela ketidakadilan. Tugas utama kita adalah menegakkan kebenaran di dalam kasih (bdk. Ef 4:15). Hanya perkataan yang diucapkan dengan kasih yang disertai dengan kelembutan dan kerahiman mampu menjamah hati kita yang sarat dosa. Kata-kata dan tindakan-tindakan yang keras dan moralistik cenderung semakin mengasingkan orang-orang yang ingin kita tuntun kepada pertobatan dan kebebasan, sehingga semakin memperkuat rasa penolakan dan sikap bertahan mereka.

Sebagian pihak merasa bahwa visi tentang sebuah masyarakat yang berakar pada kerahiman adalah idealisme tanpa harapan atau kebaikan yang berlebihan. Tetapi marilah kita mencoba dan mengingat kembali pengalaman kita yang pertama tentang relasi, di dalam keluarga kita. Orangtua kita mengasihi kita dan menghargai kita karena siapa kita dan bukan karena kemampuan dan pencapaian kita. Para orangtua secara alamiah menginginkan yang terbaik bagi anak-anak mereka, namun kasih itu tidak pernah bergantung pada pemenuhan atas syarat-syarat tertentu. Rumah keluarga adalah salah satu tempat di mana kita selalu diterima (bdk. Luk 15:11-32). Saya ingin mendorong setiap orang untuk melihat masyarakat bukan sebagai sebuah forum di mana orang-orang yang tidak saling mengenal bersaing dan berupaya tampil di puncak, tetapi terlebih sebagai sebuah rumah atau sebuah keluarga, di mana pintu selalu terbuka dan setiap orang merasa diterima.

Untuk mewujudkan hal itu, maka pertama-tama kita harus mendengarkan. Berkomunikasi berarti berbagi, dan berbagi menuntut sikap mendengarkan dan menerima. Mendengarkan bermakna lebih dalam dari sekedar mendengar. Mendengar adalah tentang menerima informasi, sedangkan mendengarkan adalah tentang komunikasi yang mensyaratkan kedekatan dan keakraban. Mendengarkan memungkinkan kita melakukan hal-hal yang benar, dan tidak sekadar menjadi penonton, pengguna atau pemakai yang pasif. Mendengarkan juga berarti mampu berbagi aneka persoalan dan keraguan, berjalan beriringan, membuang semua tuntutan akan kekuasaan mutlak serta mendayagunakan berbagai kemampuan dan karunia kita demi melayani kesejahteraan umum.

Mendengarkan bukanlah hal yang mudah. Acapkali lebih mudah untuk berpura-pura tuli. Mendengarkan berarti mengindahkan, kerelaan untuk memahami, menghargai, menghormati dan merenungkan apa yang orang lain katakan. Mendengarkan melibatkan semacam kemartiran atau pengorbanan diri, tatkala kita berusaha untuk meneladan Musa di hadapan semak bernyala: kita harus menanggalkan kasut kita ketika berdiri di "tanah yang kudus" perjumpaan kita dengan orang yang berbicara kepadaku (bdk. Kel 3:5). Memahami cara untuk mendengarkan adalah sebuah karunia yang besar, maka karunia itulah yang perlu kita mohonkan dan kemudian dengan segenap daya dan tenaga kita coba melaksanakannya.

Surat elektronik, pesan teks singkat, jejaring sosial dan percakapan daring (dalam jaringan, online) dapat juga menjadi bentuk-bentuk komunikasi insani seutuhnya. Bukanlah teknologi yang menentukan apakah komunikasi itu asli atau tidak, melainkan hati dan kemampuan manusia untuk secara bijak memanfaatkan sarana-sarana yang dimiliki. Pelbagai jejaring sosial dapat memperlancar relasi dan memajukan kesejahteraan masyarakat, namun jejaring sosial itu juga dapat menyebabkan pertentangan dan perpecahan yang lebih dalam di antara pribadi-pribadi dan kelompok-kelompok. Dunia digital adalah ruang umum terbuka, sebuah tempat pertemuan di mana kita bisa saling mendukung atau menjatuhkan, terlibat dalam diskusi sarat makna atau melakukan serangan yang tidak jujur.

Saya berdoa agar Tahun Yubileum ini, yang dihayati dalam kerahiman, "dapat membuka diri kita kepada dialog yang lebih bersungguh-sungguh sehingga kita bisa mengenal dan memahami satu sama lain dengan lebih baik: dan ini bisa melenyapkan berbagai bentuk kepicikan dan sikap kurang hormat, dan menghilangkan setiap bentuk kekerasan dan diskriminasi" (Misericordiae Vultus, 23). Internet dapat membantu kita untuk menjadi warga negara yang lebih baik. Akses ke jaringan digital membawa sebuah tanggung jawab atas sesama kita yang tidak kita lihat namun benar-benar nyata, dan yang memiliki martabat yang mesti dihormati. Internet dapat digunakan secara bijak untuk membangun sebuah masyarakat yang sehat dan terbuka untuk berbagi.

Komunikasi, di mana pun dan bagaimana pun bentuknya, telah membuka aneka cakrawala yang lebih luas bagi banyak orang. Komunikasi adalah sebuah karunia Allah yang menuntut sebuah tanggung jawab besar. Saya ingin merujuk pada kekuatan komunikasi ini sebagai "kedekatan". Perjumpaan antara komunikasi dan kerahiman akan sangat bermanfaat ketika sampai pada tahap di mana perjumpaan itu menghasilkan sebuah kedekatan yang peduli, memberi rasa nyaman, menyembuhkan, menyertai dan merayakan. Dalam sebuah dunia yang hancur, terbelah, dan bertentangan, berkomunikasi dengan kerahiman berarti membantu menciptakan sebuah kedekatan yang sehat, bebas dan bersaudara di antara anak-anak Allah dengan segenap saudara dan saudari kita dalam satu keluarga umat manusia.

Diberikan di Vatikan, 24 Januari 2016

Paus Fransiskus

 

Foto: http://proceso.com.do/noticias/2016/03/19/papa-francisco/

   

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL